Marley & Me

Jennifer Aniston & Owen Wilson, adalah sebuah jaminan awal untuk film ini.  Keduanya tentu saja sudah kita tahu kualitasnya.  Jadi, memutuskan untuk menonton film ini hanya karena penampakan kedua bintang itu adalah hal yang wajar.

 

Itulah yang saya lakukan. 

 

Namun setelah menonton, saya jadi berpikiran lain.  Bukan hanya kedua bintang itu saja yang membuat film ini layak menjadi ditonton.  Terutama buat mereka pasangan muda yang sedang berusaha membangun sebuah keluarga.

 

Diawali dengan sebuah narasi mengenai seorang bocah dan piaraannya oleh Owen Wilson, jalan pikiran kita langsung dibawa kearah “ahhh……….another super-duper-genius-dog, nih!”  (terutama buat orang yang sama sekali belum baca resensinya).  Tapi beberapa detik kemudian jalan pikiran itu akan berubah, ketika Owen Wilson berteriak memanggil seekor anjing Labrador yang berlari kesetanan “Marleyyyyyyyy…………..!!!!!”. 

Dan seterusnya sampai akhir film otak kita akan terus mencerna dan akhirnya sampailah kita pada kesimpulan

“Hei, ini bukan Beethoven, ini bukan AirBud, but it’s GOOD, it’s even BETTER!!!!”

 

Jennifer aniston berperan sebagai Jenny Grogan, seorang jurnalis di sebuah koran di Florida yang juga seorang pengantin baru.  Suaminya, John Grogan (Owen Wilson), juga seorang penulis, namun karirnya tak semulus istrinya.  Alih-alih mendapatkan pekerjaan sebagai reporter, dia malah mendapatkan pekerjaan sebagai kolumnis di koran local di Florida. 

 

Merasa belum siap untuk  membentuk keluarga, John mendapatkan ide untuk membelikan anak anjing untuk Jenny sehingga keinginan Jenny untuk mendapatkan anak dapat teralihkan.   Jadilah seekor anak anjing Labrador “clearance sale”, menjadi peliharaan mereka. 

 

John & Jenny menamakannya Marley.  Semenjak hari pertama, Marley tak menunjukkan sikap manis seperti anak anjing pada umumnya.  Dia melolong, menggonggong, bahkan meringik setiap saat.  Dia makan tak berukuran  banyaknya. Dia bahkan gemar sekali merobek, merusak segala hal yang menarik perhatiannya. 

 

Waktu berlalu dan Marley sama sekali tak berubah.  Dia bahkan ditolak dan diusir  dari “obedience course” (kursus kepatuhan), karena dianggap akan merusak kepatuhan anjing-anjing peserta kursus yang lain.  John kemudian menjulukinya sebagai World’s Worst Dog. 

 

Marley berkembang, dan begitu juga dengan John & Jenny, serta keluarga mereka.  Banyak hal terjadi dalam keluarga yang mulai dibina.  Kesedihan, kebahagiaan, amarah, mewarnai kehidupan mereka.  John & jenny, yang akhirnya memutuskan untuk memiliki anak, kemudian menghadapi berbagai hal yang banyak terjadi pada keluarga muda.  Dan Marley mengikuti semua prosesnya. 

 

Hingga pada suatu waktu ketika mereka telah memilliki 2 anak , Partrick & Conor, saat  kelelahannya memuncak, Jenny menuding Marley sebagai sumber segala masalah yang dihadapinya.  Jenny-pun meminta untuk mengenyahkan Marley dari kehidupan keluarga mereka. 

 

Namun, beberapa saat kemudian, Jenny menyadari jika Marley bukanlah sebuah masalah.  Masalah muncul karena mereka berkembang.

 

Menurut saya film ini juga bukan mengenai Marley, bukan juga tentang binatang peliharaan, namun mengenai sikap yang diambil oleh pasangan muda John & Jenny, dalam menghadapi segala persoalan rumah tangga yang baru dibina.  Bagaimana konflik dapat terjadi dalam rumah tangga, dan bagaimana menyikapinya.

Marley bukan merupakan pesan dan masalah yang ingin diangkat dalam film ini. 

 

Walaupun demikian, Marley adalah warna dalam film ini.  Menonton film ini, mau tak mau saya jadi teringat beberapa binatang yang sempat menjadi peliharaan keluarga saya dulu (sekarang kami tak punya peliharaan sama sekali).  Mau tak mau saya saya mengingat 2 burung beo yang keduanya bernama bawor dan seekor kucing hitam putih bernama hakeem.  Mau tak mau saya membuka luka dihati saya mengingat momen-momen kehilangan mereka, saat diakhir film Marley meninggalkan John, Jenny, dan ketiga anak mereka. 

 

Pecinta binatang, terutama anjing, harus menyiapkan setumpuk Tissue untuk mengeringkan air mata mereka ketika menonton film ini.  Namun yang paling penting, kita bisa belajar menjadi dewasa,  belajar menyikapi segala persoalan yang kita hadapi bukan dengan menyalahkan orang lain, apalagi sampai menyalahkan binatang peliharaan yang hanya tahu bagaimana mencintai tuannya, seperti John & Jenny. 

 

“all we have to give is our heart, then he (ours) will give all his heart to us”

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.